Top Social

SABARKU SELUAS SAMUDERA

Sunday, October 05, 2025




Bismillahirrahman'nirrahim.


Sabarku seluas samudera.

Sejak kecil ditinggal Mama meninggal dunia.


Kenanganku saat tumbuh menjadi anak TK adalah jalan-jalan sepulang sekolah menemani Mama ke Rumah Sakit untuk kontrol sakit diabetesnya. Kenanganku saat kecil ingin beli mainan kecrekan krincingan, hanya bisa beli yang ukuran kecil. Sabarku sejak kecil mengajakku bermain-main dengan pita biru yang aku lepaskan di sebuah buket besar bunga ucapan bela sungkawa yang dikirim orang-orang ke rumah dan disandarkan di dinding garasi dibawah meteran listrik. Sabarku saat kecil adalah saat teman-teman dibagikan rapot oleh Bu Guru dengan peraturan harus diambil oleh Orangtua atau perwakilan orang tua sedangkan aku diambilkan rapotnya oleh Ibu kantin SD. Sabarku adalah saat teman-teman di jam istirahat di sambut ibunya jam istirahat siang dengan sekotak bekal, sedangkan aku hanya duduk dibawah pohon beringin besar maskot sekolah dengan perut menahan lapar dan memandang dari kejauhan kotak bekal teman yang cukup lezat. Sabarku adalah melihat teman-teman di lingkungan rumah bermain boneka kertas (yang dijual di mang jualan depan sekolah, sedangkan aku hanya ikut duduk di samping mereka memainkan boneka kertasnya. Sabarku adalah saat liburan sekolah 1 bulan, teman-teman berkumpul-bermain, sedangkan aku diharuskan Papa diam di dalam rumah untuk belajar masak dan menghafal bumbu-bumbu masakan di dapur. Sabarku saat kecil adalah saat teman-temanku berkumpul bermain dan aku bisa ikut main & mereka diberi uang jajan untuk bisa makan bakso 10.000 rupiah (semangkok) dan makan enak bersama, sedangkan aku hanya bisa menahan air liur sehingga saking aku ingin sekali makan bakso, aku hanya bisa mencicipi "2 sendok kuah bakso bekas makan mereka" yang akan dikembalikan mangkoknya ke mang bakso. Sabarku saat kecil adalah saat ingin ikut karnaval sore 17 Agustusan, aku justru tidak diperbolehkan ikut karnaval dan harus di rumah (dilarang main) dan dikunci di dalam kamar, hingga menjelang maghrib aku ingin sekali pipis tetapi pintu kamar tetap dikunci, sehingga aku pipis di dalam lemari baju dan lantai bawah meja belajar. Sabarku saat kecil adalah saat aku bermain in line skate bersama teman-teman di lingkungan rumah, sedangkan aku hanya punya sepatu roda usang bekas lungsuran 2 kakakku. Yang lain berselancar dengan sepatu roda barunya dan aku terseret-seret dengan sepatu roda besi yang rodanya sudah tidak mulus. 


Sabarku saat teman-teman ditemani orangtuanya mendaftar sekolahan, sedangkan aku hanya sendirian dengan ditemani map biru ukuran polio. Sabarku adalah saat berprestasi dan menjadi pemimpin upacara 17 Agustusan di Alun-alun kota, tapi tak ada yang meng-apresiasi. Sabarku saat remaja adalah aku harus setiap pagi sebelum tiba di sekolah harus menyetorkan 2 keranjang jamur (1 keranjang ke mag sayur & 1 kerangjang ke pasa tradisional) sebelum aku menuju ke sekolahan pagi-pagi. Sabarku adalah saat aku harus mengalah untuk tidak minta les apapun kepada orangtua saat orangtua lebih memilih membayarkan kakak-kakakku les yang mereka inginkan.


Sabarku saat mau masuk kuliah adalah merelakan cita-citaku, jurusan kuliah yang aku impikan, kampus yang aku inginkan, demi menuruti keinginan Papa untuk menjadikan aku harus masuk jurusan keperawatan yang notabene aku tidak bahagia disana, aku tidak mau masuk di kampus keperawatan, aku tidak mau jadi perawat. Dan hasilnya.... kini.... saat ku dewasa.... aku tidak punya skill, tidak punya kemampuan, tidak punya ketangguhan, tidak punya masa depan. Cukup jadi ibu rumah tangga yang tidak memiliki cita-cita.


Sabarku saat sudah menikah adalah dihadapkan dengan orang-orang yang memberikan banyak luka dan trauma. Sabarku saat dewasa adalah saat 6,5 bulan aku masih berduka pasca Papa meninggal, justru aku dikata-katai "mandul" sebanyak 3x oleh Nenek mertua, setengah jam usai pulang dari solat ied.

Padahal kupikir aku menuruti keinginan mereka agar aku lebaran ke jawa ke tempat nenek mertua agar aku bisa tetap merasakan lebaran di tengah-tengah keluarga (suami) walau aku adalah anak yatim-piatu. Tapi pada faktanya, saat aku hanya duduk tenang di ruang tamu rumah nenek mertua, sekonyong-konyongnya malah ditanya usia pernikahan, kenapa tidak kunjung hamil, dan berujung dikata-katain bahwa "kamu mandul sih".


Sabarku saat sudah berumah-tangga adalah sekitar 21 hari usai keguguran pasca inseminasi, aku tetap harus datang ke acara sukacita adik ipar yang istrinya baru melahirkan. Aku mencoba tersenyum, membawa kado, membawa senyuman hangat, untaian doa baik, dan kesabaranku seluas samudera untuk tetap turut senyum di tengah-tengah acara.

Tetapi sekonyong-konyongnya, 5 jam usai acara "akikahan bayi adik ipar", saat menjelang maghrib aku duduk tenang di karpet, sedangkan mertua duduk diatas sofa diapit kedua adik ipar yang turut duduk disebelah mertua sambil memakan kue, tiba-tiba sekonyong-konyongnya aku dikata-katai oleh ibu mertua,..... "Rahim kamu ada jin-nya"... ucap mertua berdasarkan kata Duku rekomendasi teman tenis".

Seketika hancur sudah mentalku DETIK ITU JUGA!!. 


Aku tahan tangisanku seeee-kuat tenaga hingga mertua pulang & acara bubar ; selesai usai shalat maghrib. Aku hanya menahan airmata sampai pada akhirnya aku dan suami berpamitan untuk pulang, kuberikan senyum dan ucapan doa untuk adik ipar dan istrinya yang sedang berbahagia.

Setelah keluar dari rumah mereka dan naik ke kursi belakang motor, di belokan pertama keluar komplek... airmataku sudah tidak ku bendung. Aku menangis sejadi-jadinya di perjalanan, hanya berbekal sandaran punggung suami dan guyuran air hujan yang turun serentak bersamaan airmata ku yang paling sakit dan paling hancur.


Sabarku seluas samudera.

Seminggu usai kejadian aku dihina dengan terang-terangan di hari H acara akikahan & di depan kedua adik iparku aku dikata-katai "Rahimku ada jin-nya", aku diperintah kedua mertua pulang ke kota mereka. Mereka bilangnya mengajakku & mengantarku ke tempat tukang pijat refleksi kaki. Tapi saat sudah sampai sana, aku lagi-lagi dibohongi oleh kedua mertua dan suamiku. Ternyata aku bukan dibawa untuk pijat refleksi kaki, tapi aku dibawa ke "DUKUN berkedok suka mimpi ketemu jin & dikasih keris usai bangun tidur tengah malam" (kata ibu mertua).


Aku dipaksa tidur terlentang, kedua kakiku dipegang erat oleh suami (atas perintah ibunya) agar aku tidak geral memberontak. Kedua bahuku kanan-kiri ditekan oleh ibu mertua agar aku tidak bergerak, disaat sang Dukun menenak-nekan dalam perutku (perut tengah bawah & perut samping kanan) yang which is itu adalah posisi rahimku dan tuba fallopi kananku.


Aku sudah memohon-mohon sambil menangis meminta, "Mama...sakit..... sakit.... udah.... berhenti..sakit...".Tapi ternyata suara sakitku tidak diindahkan mereka. Dan jarak sekitar 4-5 meter, duduk pula Bapak mertua yang tidak bergerak, bertindak sedikit pun untuk menghentikan "tekan rahimku oleh dukun perempuan itu". 


Di saat itulah, aku hanya bisa, hanya sanggup memanggil-manggil lirih almarhumah Mamaku ("Mama.....Mama...") walau aku tahu Mamaku, Papaku tidak akan datang menolongku.

Sejam pertama pasca pijat urut rahim, perut tengah bawah & samping kanan sudah hijau membiru. Aku tidak langsung dibawa pulang apalagi ke Rumah sakit. Mereka malah ingin makan malam iga bakar jangkung. Aku hanya bisa terdiam membeku seperti ibarat korban perkosaan yang shock berat. Aku tunjukkan perut lebam hijauku yang membiru tepat di pintu toilet tempat makan saat berpapasan dengan ibu mertua. Dia hanya menjawab, nanti juga 2 hari hilang, yang penting Lana bisa hamil nanti".


Setibanya di rumah mertua. Mereka masuk ke dalam rumah dan naik ke lantai dua untuk istirahat malam. Sedangkan aku berbelok dan masuk ke kamar bawah. Untuk membuka baju, berganti pakaian atau sekedar melepas tanktop saja sudah kesakitan amat sangat. Tapi tidak ada yang menanyakan kabarku malam itu, ataupun sekedar membawakan minyak kayu putih. BIG NO!!. Tidak ada 1 manusia pun  di rumah itu yang menanyakan kabarku pasca ditekan-tekan paksa oleh Dukun.


H+1 pasca kejadian tragis itu, lebamku berubah menjadi biru keunguan.


H+2 hingga H+5 lebamku berubah menjadi ungu kehitaman.


Aku hanya ditinggal di rumah Papa yang kosong-melompong, di sofa ruang tamu rumah Papa. Untuk pipis saja aku harus ngesot di lantai untuk menuju toilet. 


Hari ke-2 aku di rumah papa, aku kelaparan, aku kesakitan, akhirnya aku nyerah, aku minta tolong tetangga depan rumah dan tetangga sahabat kecilku. Mereka mengirimkan aku makan dan minuman, memberi aku minyak kayu putih untuk sedikit meredakan "rasa panas" di luka perutku. Aku dikirimkan obat 'Pereda nyeri dan antibiotik" oleh pacar Kakakku yang berada di Jakarta. Jauh-jauh dia selalu intens menanyakan update kabarku, mengirimkan aku makanan dan obat-obatan sederhana.


Sedangkan mereka... kedua mertua, hingga 5 hari aku diam di rumah orangtuaku, satu jari kelingking kaki mereka pun tidak menyentuh teras rumahku. Tidak ada 1 SMS maupun Whatsapp yang mereka kirim ke nomerku untuk menanyakan kabarku seusai aku dipaksa diurut rahim oleh dukun pilihan mereka.


H+4 bulan pasca tragedi pijat urut rahim di dukun, lebamku menghitam, jalanku membungkuk. Lukaku mungkin berangsur sembuh karena "kemampuan tubuh menyembuhkan perdarahan dalam rahimku" dengan kuasa Allah.


Tapi luka batinku, luka mentalku, tidak akan pernah sembuh atas perbuatan dzalim mereka. 


Sabarku seluas samudera. Rasa sakit hatiku, rasa sakit batinku, rasa sakit fisikku, hingga rasa sakit mentalku, akan aku serahkan diatas sajadahku bersama airmataku.


Sabarku seluas samudera. Hingga membuat trauma terbesarku, lukaku & kesakitan batinku atas perlakuan mereka, menjadikan aku "SUDAH MATI DI DALAM - TAPI MASIH HIDUP".


Sabarku seluas samudera.

Aku lahir ......

Untuk menuai SABAR .....

Dan mengucap .....

"YA! Aku memang yatim-piatu" .....

"TAPI AKU PUNYA ALLAH"

Post Comment
Post a Comment

Hi there, thanks so much for taking the time to comment.
If you have a question, I will respond as soon as I can.

Dont be afraid to shoot me an email! If you have a blog, I will pop on by :)

Custom Post Signature

Custom Post Signature