Top Social

PART 4 : GAJAH TERKUAT

Tuesday, June 23, 2026

 

Part 4 : Gajah Terkuat

Lelah sekali hari ini. Nampaknya sesak di dadaku beum pulih jua. Api yang terasa membakar seperti semakin membesar. Apalagi saat kedatangan wanita itu di sebuah waktu yang singkat kebelakang.

Sosoknya sudah membuat hidupku seperti neraka. Aku membayangkan dia seperti manusia yang tidak terlalu tinggi, tapi juga tidak terlalu pendek. Berperawakan biasa tapi dengan mahkota duri yang terpasang di kanan-kirinya. Seolah-olah mahkota itu berkata bahwa kehadirannya menjadi Malaikat pencabut nyawaku yang hanya satu ini, inipun sudah tercabik-cabik habis-habisan. Lebam-lebam bekasku yang masih jadi luka menganga, ia sembur lagi dengan sebuah jerigen berisi minyak panas. Setiap satu huruf yang ia keluarkan dari mulutnya adalah bak semburan api dari neraka yang membakar setiap lapis tubuhku, satu demi satu. 

Selamat wahai dirimu, kamu adalah seburuk-buruknya wanita yang datang di kehidupanku saat aku sudah berdarah-darah mengobati tubuhku yang bercucuran airmata. Dan kini kamu hujamkan luka baru disekujur tubuhku hingga aku berharap MATI secepat kilat dan tidak terbangun untuk selamanya. Kamu bukanlah Malaikat, kamu pula bukanlah penjaga gerbang maut. Tetapi dirimu, dirinya adalah Sang Ratu dan Raja pemegang kerajaan bara api di sepanjang perjalanan hidupku. Akan aku catat sebagai hutang kafarah yang kelak mereka tuai di masa mendatang.

Tahu tidak, kalau aku terlahir dari tangan keajaiban Tuhan. Aku lahir hanya sebesar genggaman jari-jemari Ayahku. Di sepanjang hidupku, aku sampai hidup hanya bak manusia hologram yang sejatinya tidak hidup dengan nyata dan bisa menghilang, lenyap dengan satu kali tekan. 

Tuhan…….

Apakah Engkau tahu……. Kalau saat ini aku sudah tidak membutuhkan manusia. Aku sudah tidak membutuhkan perlindungan dari siapa pun. Aku sudah berharap tidak di tolong, karena seribu tahun pun aku hidup pertolongan manusia bagiku hanya palsu. Se-palsu hadirnya wanita perusak hidupku. Sampai-sampai berpijak dengan benar pun aku tak bisa. Seringkali badanku akan limbung terjatuh tanpa kusadari. Seolah nafasku sudah tidak bisa menjaga jantungku dengan detak yang benar.

Coba perlahan aku cari dengan teliti isyarat apa yang badanku rasakan? Oh ternyata isyarat itu tak lain tak bukan adalah lonceng kematianku yang makin mendekat. Aku sudah tidak perlu lagi berteriak kencang menanti sangkakala maut datang menyapa, aku tidak perlu lagi menyiapi tali-temali panjang yang menyambutku di teras akhirat. Karena yang aku yakini sekarang hanyalah berhenti bernafas dengan sebaik-baiknya tempat yang indah.

Tidak. Aku tidak akan merindukan mereka. Aku tidak akan merindukan siapapun. Entah itu manusia maupun setengah manusia. Yang aku mau hanya sendiri, di sebuah taman luas tanpa manusia, di depannya terdapat bentangan danau tidak terlalu luas tapi dengan riakan air yang tenang. Hingga aku bisa dengan sangat jelas mendengar sayup-sayup suara kicauan burung dari kejauhan. Ada beberapa rusa berloncat-loncat dibalik batang pepohonan cemara yang rindang, 3 ekor kelinci yang berloncat kecil dibalik rerumputan pendek, 5 kupu-kupu bersayap cantik belang berwarna indah yang terbang diatas kepalaku dan beberapa sedang beristirahat diatas sekelompok bunga tulip yang mekar cantik, dan tak lupa 10 ekor kucing berkeliaran, bermain gembira di sekitarku.

Semoga sakitku kelak akan menjadi api yang membakar mereka. Dua insan penuh kepalsuan, yang tidak akan padam api itu. Semoga Malaikat pun meng-amin-kan doaku, bahwa kelak…. hutang sakit yang aku rasakan, akan sama persis mereka rasakan. Hingga sampai di titik mereka berharap menghilang sirna.

Aku bukan wanita yang menjadi naungan siapa pun, tapi aku akan menjadikan diriku “pelajaran” bagi mereka yang menginginkan kehidupan yang fana ini. Aku tidak akan berkutik, biarkan “Mereka yang menabur, mereka pula yang akan menuai dosa”.

Ah sudahlah. Aku hanya perempuan tenang yang sudah dicelup lautan airmata. Jikalaupun Allah membiarkan diriku melewati semua ini, yang aku yakini hanya 1 : “Tuhan tahu seberapa kuat pundakku merasakan ini semua, dan bila waktu itu tiba…. akan aku sambut dengan gegap-gempita kemenangan yang sudah Allah persiapkan untuk sisa hidupku yang tidak seberapa-lama lagi”.

Hidupku tidak sepanjang yang dibayangkan. Dan matiku tidak sependek yang mereka sangka-kan. Umurku tidak lama lagi, Rabb. Yang kini aku pegang adalah sebuah kain lusuh berwarna biru tua bergambar gajah. Ya, sesosok hewan ciptaan Tuhan berbadan besar, berjiwa kuat dan dikagumi. Aku adalah ibarat seekor gajah. Tidak nampak kekuatannya, tapi aku ada. Dan sang penjaga langit pun mengawasi setiap tetes airmataku.


Post Comment
Post a Comment

Hi there, thanks so much for taking the time to comment.
If you have a question, I will respond as soon as I can.

Dont be afraid to shoot me an email! If you have a blog, I will pop on by :)

Note: only a member of this blog may post a comment.

Custom Post Signature

Custom Post Signature