Top Social

PART 3 : BURUNG GEREJA

Tuesday, June 23, 2026

 


Part 3 : Burung Gereja

Kembali diriku berdiri dan melangkahkan kaki ke balik sebuah pintu. Sungguh sulit sekali di awal untuk pintu itu terbuka. Tapi pada akhirnya aku bisa jua membukanya dengan sekuat tenaga. Tidak ada kehangatan yang aku rasa, hanya keheningan yang menyelimutinya.

Taukah kamu, kalau seseorang bertanya dalam hatinya, maka Tuhan-lah yang akan menjawabnya melalui sanubari dirimu?

Itulah yang aku rasakan sekarang. Aku sudah tidak tahu-menau apa yang harus aku perbuat. Ramai sekali terkadang isi kepalaku, hingga aku sulit menerka mana suara hatiku dan mana suara hati kiriman dari Tuhan. Yang aku bisa lakukan sekarang hanya duduk di kursi tamanku, mencoba memandang kejauhan dengan pemandangan sebuah pohon tabebuya yang tertancap kokoh hasil bertahun-tahun aku siram dan kurawat.

Diriku yang tidak tahu ini mencoba memaksa menerka-nerka apa yang mau Tuhan kirimkan pada diriku yang rendah dan tidak bernilai ini. Seperti energi gelap dari ruangan temaram yang dihuni gadis kecil itu sudah mengisi seluruh kekosongan jiwaku kini, hingga membuatku sulit berkata dan bersuara.

Siapa Aku? Bahkan aku coba menyapa pun, aku juga sudah kehilangannya, kehilangan jiwa yang sejatinya Allah tiupkan Ruh bernyawa. Hanya saja disayangkanya Allah masih memberiku oksigen untuk bernafas, dan fisik kaki-tanganku bisa bergerak normal. Tapi langkah kakiku sudah memberatkan jiwaku yang seperti orang koma. Yang lambat-laun sudah tidak ada lagi keinginan untuk hidup dan di hidupkan. Semua suara diluar seperti suara teriakan nyaring manusia-manusia tidak bertulang. Sangat menyakitkan hingga aku pun sudah tidak tahan lagi. Berisik sekali telingaku, kosong sekali batinku. Hingga aku tidak mampu lagi mendengar suara Tuhan berbisik.

Keadaanku mati rasa, apalagi saat mengetahui hidupku di mati-kan oleh orang-orang yang seharusnya melindungi diriku. Aku benci menjadi diriku seutuhnya. Bahkan aku harus menghafal kembali bentuk setiap lekukan wajahku yang sudah aku lupa. Bercermin pun aku sudah tidak sanggup, yang aku rasakan seperti neraka di dunia, aku sudah tak sanggup lagi berkata “YA maupun TIDAK”.

Nafasku terkadang tiba-tiba akan terengah-engah. Kedua jari-jemari kanan kiriku akan gemetar hebat, tidak bisa ku kendalikan, dada amat terasa sesak seperti ada hujaman pedang yang menembus dibalik punggung belakangku dan sekalian sebuah belati perak tajam menusuk dari arah depan dadaku. Semua badanku seperti serempak berteriak, “AKU HANCUR….”. 

Lihat, wahai diriku! Di depan sana. Ahh aku tetap tidak bisa melihat jelas. Semua terasa seperti embun kabut sehabis hujan yang menutup jarak pandang. Walau aku mencoba sepasang kacamata bening dengan kemampuannya melihat jarak jauh, aku masih tidak bisa melihatnya dengan jelas. Semuanya terasa kabut putih buram yang ya sesekali hanya nampak seperti bayangan abu-abu sebuah gedung menjulang tinggi di kejauhan yang terlihat samar. 

Aku mencoba menengadahkan kepalaku memandang keatas langit. Langitnya terlihat tidak terlalu cerah tapi cukup bercahaya. Ada semburat sinar matahari memecah awan perak kelabu diatas, sehingga sedikit bayang-bayang matahari menghangatkan tubuhku yang sudah tidak sekuat dulu. Aku hanya duduk diam memandang langit diatas sana. Ada serombongan buruk gereja yang terbang memutar arah, mereka bak sekawaaanan anak-anak yang sedang bermain kejar-kejaran tetapi bukan di taman, melainkan di udara. Ahhh sungguh indah kehidupan mereka, tidak memusingkan hidup, cukup terbang mengikuti arah angin dan mengikuti insting musim untuk berpindah tempat.

DIRIKU. Duduk di sebuah kursi taman, mengenakan celana panjang lurus berwarna abu-abu muda yang kainnya terasa lembut dan tipis sehingga nyaman dikenakan. Atasannya memakai sebuah kaos semi-longgar bergaris hitam-putih dibawah perut dan dilapisi jaket putih dengan rajutan tidak rapat berwarna broken white minimalis dan tidak dikancing. Kedua kakiku tidak beralaskan apa-apa, hanya terlipat saling tumpang atas-bawah yang penting aku nyaman berlama-lama memandang langit.

Kamu tahu….. saat aku terduduk santai sembari memandangi langit diatas kepalaku, yang tersirat aku mau hanya satu, yaitu ‘Jam Pasir’! Jiwaku seperti ingin menghapus semua masa laluku dengan 1 balikan jam pasir itu. Aku ingin sekali saat pasir itu habis di satu balikan, maka semua penderitaanku sirna sudah, orang-orang yang berada di cerita hidupku bisa menghilang sejentikan jari illahi. Dan aku tidak kembali menjadi jati diriku yang sesungguhnya, tapi saat jam pasir selesai habis satu balikan, aku akan berubah menjadi anggota burung gereja yang aku lihat beberapa menit yang lalu.

Post Comment
Post a Comment

Hi there, thanks so much for taking the time to comment.
If you have a question, I will respond as soon as I can.

Dont be afraid to shoot me an email! If you have a blog, I will pop on by :)

Note: only a member of this blog may post a comment.

Custom Post Signature

Custom Post Signature