Part 2 : Quiet is the new loud
Salah satu bagian menyakitkan bagiku adalah “KEHILANGAN”. Oh tentu saja, dengan makna berbeda dan pengalaman beragam. Selama aku masih diberi nafas oleh Tuhanku, kehilangan sudah menjadi makanan utamaku. Aku sudah seperti kehilangan jiwaku.
Kehilangan yang aku jalankan tidak melulu seperti hal-nya kehilangan suatu benda dan bisa diganti. TIDAK. Aku kehilangan diriku, sejak Tuhan menaruhku di dunia. Rasa kesepian, kosong yang aku punya membuatku seperti anak kecil yang lebih damai dan aman bila menangis di kolong tempat tidur sembari mendekap secarik foto wanita dewasa berkebaya.
Rasa-rasanya aku seperti dihadapkan pada 4 pilihan : Hidup tapi Mati di dalam, Mati tapi Hidup diluar, Hidup yang dipaksa untuk Hidup diluar, serta Hidup yang terasa Mati di dalam. Keempat-empatnya sangat tidak aku suka. Semua pilihan itu tidak aku inginkan. Keempat-empatnya pula tidak ingin aku jadikan perjalanan hidupku ke depan. Bahkan hingga kini aku puluhan tahun hidup pun bertanya-tanya dan masih diberikan nafas oleh tubuhku.
Pernah sesekalinya aku berusaha bernafas dengan irama satu - dua - tiga - huffff hiduplah. Tapi semakin aku ikuti ritme nafas itu, justru malah membuatku ketakutan. Hatiku terasa seperti ada angin gelap menderu pelan dibalik kesunyian. Aku (lagi-lagi) seperti seorang anak kecil, mengenakan daster putih polos sepanjang lutut dengan lengan ⅞ dengan ujungnya kerutan berkaret setengah longgar. Rambutku yang sebahu dengan bentuk keriting menggantung, berjalan di lorong gelap, yang di semua sisi kanan-kiri koridornya terdapat berbagai pintu terutup. Aku, sang anak kecil itu berjalan perlahan tanpa alas kaki, memegang sebuah tatakan kecil yang diatasnya menempel sebuah lilin yang menjadi satu-satunya lampu penerangan di lorong gelap itu.
Angin dingin terasa bertiup dari arah belakang lorong hingga menembus setiap ruas punggung kecilku, masuk ke sela pori-pori kain daster putihku, sedikit membuatku bergidik, tapi langkah kaki kecilku sama sekali tidak bergeming. Aku dengan teramat pelan, satu-persatu mendekatkan piring kecil berataskan lilin itu untuk mendekati satu demi satu daun pintu. Daun telingaku aku tempelkan dengan sangat dekat ke setiap daun pintu yang menjulang kokoh dan sangat tinggi. Aku dekatkan badan kecilku menempel perlahan, agar aku bisa mendengar dengan sedikit jelas, atau bila aku beruntung aku bisa mendengar dengan jelas suara-suara apa yang berada di balik daun pintu yang menjulang kokoh tersebut.
Dengan sekitar lorongnya gelap dan hanya satu buah lilin yang menerangi lorong yang panjang itu, terkadang aku menemukan suara orang-orang tertawa riang gembira, ada pula suara seseorang yang mengerang kesakitan, suara sebuah alunan musik klasik yang terasa menyedihkan, suara angin yang membuka-tutup sebuah jendela hingga terdengar jelas derit kayu daun jendela yang tersingkap angin, ada juga suara anak-anak laki dan perempuan yang bermain, bersenda-gurau, ada juga suara anak lelaki yang memegang mainan kereta-keretaan sembari sesekali membanting-bantingkan mainan lainnya dari bahan kayu.
Ohhh….. sungguh lelah diri kecilku itu untuk coba mengetuk satu-persatu pintu besar itu, mencoba mengintip dibalik lubang kunci, hingga mendengar bisikan lirih seorang anak kecil yang berkata, “Aku lelah, ingin sekali aku tertidur”. Tapi lagi dan lagi anak kecil itu tidak bisa membuka pintunya. Seperti terkunci dari dua arah, luar dan dalam. Padahal tidak ada kunci yang tergantung di lubang kuncinya.
Suara piano berangsur-angsur makin mendekat. Anak perempuan kecil itu, dengan kaki telanjangnya yang sudah mulai kedinginan berjalan maju mendekati suara denting piano yang semakin jelas terdengar. Arahnya tepat di depannya. Tapi lorong itu semakin ia susuri, semakin dingin. Badan mungilnya sudah tidak bisa menerima hujaman angin kencing yang bak sebuah monster dingin berlari dari arah belakang dan menghujam dadanya. Tapi ia tetap berjalan sembari daun pintu demi daun pintu ia periksa, apakah bisa ia buka, apakah ada orang di dalamnya, apakah ada suara yang bisa ia dengarkan, hingga apakah ruangan itu kosong dan bisa dibuka. Tapi pada kenyataannya seluruh pintu yang ia susuri di lorong koridor gelap bercahayakan sebuah lilin itu, semuanya serempak, terkunci dan tidak bisa terbuka walau dengan dorongan kencang tubuh mungilnya.
Sampai jua ia, si anak kecil berdaster putih dengan rambut keriting sebahu tiba tepat di ujung lorong gelap. Ya, kanan kiri tubuhnya masih diapit 2 buah pintu berdaun besar nan kokoh berdiri. Setelah ia cek kedua pintu tersebut yang sudah pasti tidak bisa dibuka, pada akhirnya dia terdiam. Angin dingin yang dari awal menusuk punggung belakangnya mulai menyusup ke kanan kiri tubuhnya, ibarat seperti memecah gelombang angin di kedua sisi.
Di depannya hanya nampak ruangan luas besar berwarna hitam dengan semburat keemasan dibalik cahaya lilin. Entah itu ruangan apa. Tapi yang ia lihat hanyalah sebuah ruangan sangat besar, luas dan kosong. Tidak ada sedikitpun sebuah kehidupan, tanda-tanda suara manusia maupun alunan alat musik piano yang tadi dia dengar dari kejauhan. Tangan mungilnya tetap tidak bergeming. Dengan kedua telapak tangannya ia perlahan berjalan maju memasuki ruangan besar dan gelap itu, sembari sesekali memusatkan matanya pada ujung api lilin yang bergerak pelan ke kanan dan kiri seperti ada angin lembut meniupnya perlahan. Dia cukup khawatir bila suatu waktu api lilin itu mati dan dia terjebak di kegelapan ruang yang tidak ia kenal sama sekali.
Langkah demi langkah kaki kecilnya menyusuri ruangan itu. Maju jalan ke depan perlahan. Rasanya teramat sunyi, hatinya bergetar hebat, hingga ia tak sadarkan diri bahwa airmatanya sudah jatuh sendiri. Ia tidak takut, ia tidak takut dengan kegelapan yang menaungi dirinya. Ia hanyalah anak kecil lugu yang telah berhasil menyusuri lorong gelap dengan ribuan pintu kokoh tertutup. Degup kencang terasa di dadanya, ia bingung mau melihat kemana, kanan, kiri, atas, bawah, depan sama saja. Tapi yang tidak ia lakukan hanyalah menoleh balik ke belakang, karena baginya belakang hanyalah lorong sunyi tanpa cahaya. Suara lirih angin berhembusnya pun sudah tak jelas ia dengar.
Tanpa ia sadari, ia sudah berdiri tepat di tengah-tengah ruangan besar itu. Di atas kepalanya terdapat lampu kristal gantung berwarna putih dengan bentuk kelopak bunga sebanyak 6 buah. Di setiap kelopak lampu kristalnya terdapat bohlam lonjong sudah usang yang mulai berkedip pelan tepat saat anak kecil itu berdiri di bawahnya. Lampunya sudah sedikit usang, tapi masih menampakan kecantikannya. Hingga pelan-pelan ia dibantu oleh cahaya lampu kedip itu untuk bisa perlahan menyusuri matanya 360 derajat, memeriksa sekeliling ruangan itu dengan cepat.
Di sisi serong kanan depan, ya ternyata ada sebuah grand piano besar berwarna hitam dengan kursi panjangnya dari bahan kulit hitam mengkilap. Diatas pianonya terdapat vas bunga berukuran sedang yang di dalamnya terisi satu buket bunga lili putih cantik yang masih mekar dan segar. Siluet pinggir piano terdapat taplak meja memanjang berwarna hitam bludru dengan pinggirannya yang keemasan.
Di sisi serong kiri depan, nampak ayunan berwarna pastel dengan berbagai warna. Pink lembut, butter yellow, hijau mint, biru muda, cokelat pasir pantai beralaskan rerumputan hijau dengan potongannya yang rapih dan bersih. Sebuah ayunan yang tidak pernah ia lihat selama hidupnya. Seperti nampak sebuah taman kecil ceria dengan warna-warnanya yang lembut. di ujung turunan ayunan tersebut, nampak seperti alas duduk sebagai dudukan akhir seluncuran, terbuat dari bahan bantal tipis dengan teksturnya berwarna cream pucat. Tidak ada motifnya, hanya bantal duduk polos yang nampak bersih.
Ia enggan menoleh ke sisi serong kanan belakang, dan sisi serong kiri belakang, karena di pikirannya, ia tahu itu hanyalah berisikan pojok gelap dengan sedikit penerangan lampu temaramnya yang kosong tidak berisi benda-benda apapun. Tubuh mungilnya hanya berdiam berdiir memaku sembari sesekali menatap cahaya lilin yang ia pegang dengan kedua tangan kecilnya. Lilinnya masih menyala, tapi tidak seterang tadi. Sudah mulai memendek seiring perjalanannya tadi menyusuri lorong yang hening.









Post Comment
Post a Comment
Hi there, thanks so much for taking the time to comment.
If you have a question, I will respond as soon as I can.
Dont be afraid to shoot me an email! If you have a blog, I will pop on by :)
Note: only a member of this blog may post a comment.