Part 1 : Musim Semi
Kamu tahu.... yah atau setidaknya kamu pernah mendengar sebuah istilah "bahwa apa yang kamu inginkan, bukan selalu yang kamu butuhkan".
Aku sangat setuju dengan kalimat kiasan ini. Bagiku terkadang Tuhan itu menciptakan manusia, dengan berbagai tujuan. Itulah makanya membuat masing-masing hamba-Nya dilahirkan, terlahir sesuai "peran" yang sudah Allah rancang di dunia. Itu pula makanya, apa yang 1 orang inginkan, pasti berbeda dengan keinginan orang lainnya. Hanya saja, sepengalamanku, walaupun aku menginginkan 1 hal yang menurutku, di hatiku aku inginkan hal itu, aku membutuhkan hal tersebut, ternyata Allah akan memberikan kebalikannya.
Ya, memang... terkadang aku bisa sedikit ngedumel saat apa yang aku inginkan dan aku pikir aku 'butuh', ternyata tidak diberi oleh Allah. Bisa jadi cukup lama pula aku akan menggeruti sembari tetap berdoa, tapi juga campur-aduk bingung karena tak kunjung mendapatkan apa yang aku inginkan. Sampai-sampai, ujungnya memang Allah yang menginginkan aku untuk "tidak perlu berusaha cukup berat". Santai saja, duduk diam, selami apa yang sudah aku dapatkan di tangan, toh nanti juga Allah akan beri sesuai"timing yang tepat menurut-Nya.
Hahahaha.... terdengar konyol. Dulu saat aku masih remaja, masih muda belia, ego-ku yang tidak tinggi, tapi juga tidak rendah, terkadang membuatku bersungut, "kenapa ya Tuhan.... kok nggak dikasih-kasih apa yang aku inginkan” .
Hingga pada ujungnya, walau umur akhirnya berganti angka, ya tetap tidak diberi. Karena memang ternyata (yang aku sadari sekarang), memang "perjalanan dan kisah hidupku" sudah paling cocok, paling tepat bila tidak diberi.
Kenapa?
Karena ternyata menurut Tuhan, ya memang aku yang pantas untuk tidak mendapatkannya, ya memang menurut-Nya diriku adalah hamba-Nya yang terpilih dan kuat di matanya, hingga harus melalui badai terjal curam tersebut.
Ditambah lagi, mau aku rewel pun, menggerutu, bahkan (jika) sampai aku meninggalkan Tuhan pun, ya memang aku-lah yang akan terpilih melewatinya. Karena di mata Allah... Aku sudah digariskan menjadi salah satu anak perempuan yang kuat dari sekian banyak anak-anak perempuan di seluruh muka bumi yang juga bernasib dan diberi takdir yang persis sama denganku.
Sakit sih. Sakit sekali malahan, saat apa-apa yang sangat diinginkan dan masuk ke dalam ribuan untaian doa, puluhan tahun menginginkannya, sudah memohon-mohon seperti seorang anak kecil yang amat-sangat menginginkan sepeda roda dua yang dipajang di sebuah toko sepeda, tapi pada akhirnya pun hingga ia dewasa sekali pun, sepeda itu tidak pernah ada di hadapan matanya, tidak pernah ia merasakan bentuk, lekukan, warna cantik sepeda roda dua yang teramat ia impi-impikan sejak kecil.
Hingga pada titik akhir, dia belajar pelan-pelan, dengan perlahan menurunkan impiannya, ekspektasinya, bahkan benar-benar mengubur dalam-dalam keinginannnya menginginkan sepeda roda dua itu. Bahkan lebih parahnya lagi, dia sudah di titik berdoa pada Tuhannya, ‘Ya Allah, jangan lagi berikan sepeda roda dua itu ya, Rabb. Aku sudah menua, sudah bertambah usia, kaki-kakiku sudah sangat lelah berjalan setapak demi setapak di jalanan terjalmu, aku sudah tidak kuat lagi mengayuh, jari-jemari tanganku pun nampaknya sudah lemah untuk menuntut 2 stang sepeda yang aku inginkan. Bisa jadi bila sepeda itu kau berikan sekarang, dadaku sudah sesak, nafasku sudah mulai terengah-engah, hidungku tak mampu lagi menyerap oksigen dengan optimal, terlebih lagi hatiku ini sudah tak sanggup menerimanya”.
Kini aku pasrah. Lebih dari pasrah. Sepeda itu tidak akan masuk lagi ke dalam semua harapanku, sepeda roda dua yang dulu sangat aku inginkan itu juga tidak akan masuk lagi ke dalam seluruh doa-doa baikku. Bahkan hingga ku menutup mata, aku sudah tidak mau sepeda itu lagi. Karena bagiku….. Engkau Tuhanku, sudah pernah mengecewakanku begitu sakit, hingga rasa perihnya membuatku mengucap dengan penuh keyakinan, “seandainya aku tidak dilahirkan, mungkin aku tidak akan pernah bermimpi mengayuh sepeda”.
Dan kini aku lebih mendorong diriku untuk melepaskan semua impian. Kini sepeda itu sudah bukan tujuan hidupku. Kini sepeda itu sudah bukan bagian perjalanan hidupku, dan kini sepeda itu sudah pula bukan tujuan akhir hidupku.
Mungkin sakit, mungkin juga terasa pedih, melebihi tertusuk ribuan jarum yang menancap di sekujur tubuhku, depan, belakang, atas, bawah, kanan dan kiri. Tapi biarlah, toh luka-luka yang Tuhan sematkan, sudah menjadi sebaik-baik dan sesakit-sakitnya perjalanan sakit hidupku.









Post Comment
Post a Comment
Hi there, thanks so much for taking the time to comment.
If you have a question, I will respond as soon as I can.
Dont be afraid to shoot me an email! If you have a blog, I will pop on by :)
Note: only a member of this blog may post a comment.