Top Social

Featured post slider

Showing posts with label Pregnancy. Show all posts
Showing posts with label Pregnancy. Show all posts

HUBUNGAN ANTARA PCOS, METFORMIN DAN RESISTENSI INSULIN

Sunday, June 23, 2019

Metformin adalah anti-diabetes oral yang termasuk pada kelas biguanid. Metformin merupakan obat pilihan pertama untuk penderita diabetes tipe 2, khususnya untuk orang-orang dengan kelebihan berat badan dan gemuk serta orang-orang dengan fungsi ginjal yang normal.

Kembali subur dengan mengkonsumsi obat metformin bisa dialami oleh perempuan dengan keluhan ketidak-seimbangan hormon dalam tubuhnya. Ketidak-seimbangan hormon ini disebabkan oleh sindrom ovarium polikistik (SOPK) atau lebih dikenal dengan istilah PCOS.

Sebagian perempuan yang menderita PCOS ternyata juga mengalami gangguan metabolik yang dikaitkan dengan siklus menstruasi tidak teratur, ketidakseimbangan hormon, masalah resistensi insulin, pra-diabetes, hingga diabetes. Alhasil  obat ini bisa diresepkan buat mereka juga.
Lalu apa kaitan metformin dengan kesuburan? Untuk menjawab hal tersebut, ketahui dulu apa itu Resistensi Insulin.

Resistensi insulin yaitu kondisi dimana sel tubuh Anda berhenti bereaksi pada kadar insulin normal. Kemudian mereka menjadi kurang sensitif, hasilnya tubuh akan ‘berpikir’ bahwa tidak ada kadar insulin yang cukup pada sistem dan memicu produksi insulin yang lebih banyak dari dibutuhkan. Dan kondisi ini banyak ditemukan pada  perempuan yang menderita SOPK (PCOS).

Insulin juga memiliki koneksi yang erat dengan hormon reproduksi. Sebab peningkatan kadar insulin akan memicu kenaikan kadar androgen, atau disebut hormon pria. Dan tingginya kadar hormon androgen akan menyebabkan pula timbulnya masalah ketidak-seimbangan hormon (SOPK/PCOS) dan masalah ovulasi. Jika hal ini terjadi, maka kesempatan hamil pada perempuan dengan PCOS menjadi semakin sulit.

Although metformin can cause weight loss, it’s still important to eat healthy and exercise regularly to keep weight you’ve lost off.

Sebenarnya “senjata” paling jitu untuk mengatasi PCOS adalah dengan olahraga dan menjalankan pola makan sehat. Anda bisa meningkatkan kadar kesuburan dengan menjaga kesehatan diri sendiri dan menjalankan gaya hidup yang baik. Apabila pola makan sehat dan olahraga tidak membantu, barulah dokter akan memberikan metformin.
Sebelum kita memutuskan untuk mengkonsumsi obat metformin, Dokter akan menguji toleransi glukosa Anda  terlebih dulu untuk melihat bagaimana tubuh memproses gula. Tak hanya itu, dokter juga akan memeriksa enzim hati dan tes darah untuk memastikan Anda tidak anemia dan tubuh bisa menerima pengobatan ini.

Ada beberapa alasan mengapa para Dokter dalam bidang obstetri dan gynecology memberikan obat metformin, yang notabene merupakan obat diabetes yang bisa kembalikan kesuburan, salah satunya karena obat ini bekerja dengan cara menyeimbangkan hormon.

Pertama seperti yang sudah dijelaskan di atas. Resistensi insulin banyak ditemukan pada perempuan dengan SOPK / PCOS. Oleh karena itu metformin digunakan untuk mengatasi resistensi insulin tersebut dengan mengatur hormon reproduksi dan serta mengembalikan proses ovulasi. 

Keduametformin membantu terjadinya ovulasi. Beberapa studi menunjukan penggunaan metformin bisa membuat siklus menstruasi menjadi lebih teratur dan proses ovulasi kembali, tanpa perlu menggunakan obat kesuburan lain (dalam hal ini jika si calon ibu mengalami resistensi insulin, sebab ternyata tidak semua penderita SOPK memiliki resistensi insulin).

Ketigametformin bisa menurunkan risiko keguguran yang biasa terjadi pada perempuan dengan PCOS.

Keempat, karena PCOS sering dikaitkan dengan obesitas (berat badan berlebih), maka penggunaan metformin dipercaya mampu menurunkan bobot tubuh si pemakai. Penurunan berat badan bisa mengembalikan proses ovulasi dan meningkatkan kesempatan hamil. Selain memberikan metformin dokter juga akan meminta Anda untuk menjalankan pola makan sehat dan olahraga agar peningkatan fertilitas lebih maksimal.

Efek samping paling umum yang ditimbulkan oleh metformin ini adalah masalah pencernaan, seperti perut kembung dan sakit perut. Konsumsi metformin di tengah-tengah waktu santap membantu mengurangi efek samping yang ditimbulkan.
Biasanya, perempuan yang menggunakan obat metformin akan mengonsumsinya sepanjang hidup, kecuali mereka mengubah gaya hidup, pola makan, dan menurunkan bobot tubuh mereka. Namun demikian, upaya kembali subur dengan obat diabetes metformin bisa dipertimbangkan di bawah pengawasan dokter agar produksi hormon kembali seimbang dan kehamilan pun datang. 

Maka dari itu, inti terpenting terkait obat metformin, yaitu periksakanlah dulu terlebih dahulu diri anda dengan melakukan cek laboratorium (cek darah) terkait pengecekan hormon-hormon yang berpengaruh dengan fertilitas.

Dari hasil nilai sample darah tersebut nanti, maka akan ketahuan, apa pemicu (penyebab dasar) kita PCOS. Sehingga saat kita akan promil, maka Dokter Obygn tidak akan asal memberikan obat. 
Kita dan Dokter jadi akan tahu jelas masing-masing, pengobatan serta pemulihan yang TEPAT sesuai dengan penyebab PCOS-nya.

Langkah awal menjalani Program Hamil

Thursday, June 15, 2017


Assalamualaikum wr.wb,

Hola-halo ibu-ibu pejuang PCOS. Sudah cukup lama saya tidak posting post baru di blog kesayangan. Entah kenapa saat memasuki bulan puasa rasanya semangat saya menulis menurun dan lebih banyak saya rajin nonton youtube tentang video-video mengenai pola tingkah bayi-bayi lucu, bayi-bayi yang masih mungil dan asyik bermain dengan kucing peliharaan orangtuanya. 

Kembali ke topik promil saya bulan ini. Untuk pembaca setia blog saya yang mengikuti postingan saya sebelum-sebelumnya tentang Program Hamil, pasti sudah tahu bila saya menyebut kata 'Aster'.
Nah, sebenarnya jadwal kunjungan saya ke Aster bulan ini adalah tanggal 23 Juni (minggu depan bila Dokternya tidak cuti ya) atau diganti tanggal 3 Juli (setelah lebaran).
Jadi bulan ini karena belum ada cerita saya konsul ke Dokter, saya coba kali ini untuk menulis tentang 'Apa saja sih tindakan yang harus kita lakukan dalam Promil'.

Nah, pertama saya akan bahas tentang apa saja urutan tindakan-tindakan yang harus kita lakukan dan berhubungan dengan Fertilitas. Berikut saya jabarkan satu per satu ya :

1. CEK KONDISI RAHIM
Cek kondisi Rahim. Rahim kita sehat / tidak.
Ada triple line/ tidak.
Dinding rahim kita ideal, ketebelan atau ketipisan? Karena itu mempengaruhi bisa/ tidaknya sel telur yang sudah dibuahi menempel di dinding rahim.
Dan biasanya bagi wanita yang haid-nya tidak teratur (misal : siklus haid-nya 2-3 bulan sekali, bahkan 6 bulan sekali, biasanya dipengaruhi karena kondisi dinding rahimnya ketipisan).
Itu kenapa kalau mau Promil, juga harus di terapi dulu oleh Dokter agar siklus haid-nya lancar tiap bulan, agar memastikan bahwa setiap bulan sel telur kita bisa ovulasi.

Eh tapi ada saja yang walau haid-nya tidak setiap bulan, tetap berhasil hamil. Makanya saya masih meyakini istilah 'Kun Fayakun'. Bila Allah sudah mengkhendaki, maka yang kita pikir tidak mungkin bisa menjadi mungkin. Maka tetap ber-husnudzon (berbaik sangka) pada Allah.

Untuk pemeriksaan satu ini kita bisa melakukan pengecekan ke Dokter SPOG & meminta pemeriksaan USG Transvaginal.
Kalau pemeriksaan USG perut tidak akan kelihatan bagaimana keadaan dinding rahim kita.

2. CEK KEADAAN SEL TELUR
Cek keadaan sel telur. Sehat & besarkah? Matangkah? Sel telur bisa pecah? Atau justru PCOS?
Karena percuma saja walau ada sel telur tapi nggak matang, gimana mau & gimana bisa dibuahi oleh sperma suami?

Untuk pemeriksaan ini, Anda bisa melakukan kunjungan ke Dokter SPoG. Dan mintakan untuk pemeriksaan USG Transvaginal. Untuk datang pada awal kunjungan, sangat disarankan untuk datang pada Haid hari ke-2.
Kenapa, karena saat itu haid sedang deras-derasnya dan menjadi waktu yang tepat untuk Dokter melihat keadaan sel telur kita. Apakah kecil-kecil dan bentuknya berantai (PCOS), atau normal. Dari situ akan ketahuan, terapi pengobatan apa yang akan Dokter berikan pada kita beserta obatnya apa saja.

3. CEK SALURAN TUBA (PEMERIKSAAN HSG)
Cek saluran tuba fallopi (kanan & kiri). Apakah ada penyumbatan / tidak.
Apakah ada perlengketan / tidak.
Karena bila ada penyumbatan maupun perlengketan, maka secanggih apapun sperma suami, tidak akan bisa menembus dan tidak akan bisa membuahi sel telur kita.

Untuk pemeriksaan ini, bisa dilakukan dengan tindakan HSG. Untuk lengkapnya, kisah pengalaman saya melakukan tindakan HSG hingga tips persiapan A sampai Z, bisa Anda baca di link berikut ini perihal pemeriksaan HSG.

4. CEK HORMON
Cek hormon pembuahan diantaranya sbb : GTT puasa, GTT 2 jam, Insulin puasa, Endokrinologi (Prolactin + TSHs, LH, FSH, Testosteron, SHBG), GPT, Kreatinin, eLFG, GOT, Gamma GT, Cholesterol lengkap (Chol.Total, LDL, HDL, Trigliserida), Urea N, Ureum dan terakhir yang terpenting adalah cek HOMA IR.

Untuk pemeriksaan hormon, tentu saja bisa dilakukan mandiri / pun dengan membawa surat rujukan dari Dokter SPoG Anda. Bila pemeriksaan awal seperti USG transvaginal, pemberian obat, dan kedua langkah tersebut sudah dijalankan tapi belum menghasilkan kehamilan, maka cek hormon adalah langkah tepat untuk dilakukan. Agar diketahui kelainan hormon yang terjadi pada tubuh kita. 
Sehingga sejak awal kita menjalankan promil, sudah dibarengi dengan treatment Dokter yang tepat. Apa saja tindakan & obat yang harus kita konsumsi sesuai dengan hasil Lab hormon kita tersebut (singkat katanya sih..jadinya nga salah obat/ nga buang-buang obat ataupun dana, karena Dokter memberikan resep obatnya sesuai diagnosa klinis yang merujuk pada hasil Lab yang tepat).

Oh iya, pengalaman saya melakukan cek Hormon itu ada beberapa syaratnya, diantaranya :
  • Puasa
  • Selama puasa tersebut, tidak boleh makan, tapi diperbolehkan meminum air putih saja (teh, kopi, permen, kue, Jangan ya).
  • Sebelum melakukan cek hormon, setelah diberi surat pengantar oleh Dokter, saran saya Anda bisa sebelumnya menelepon Laboratorium tersebut dan tanyakanlah syarat-syarat lengkapnya + harganya.
  • Kenapa harus tanya syarat-syaratnya? Karena ada beberapa tes hormon yang tidak memerlukan puasa, tapi ada pula yang memerlukan pengambilan darah saat sedang haid hari kesekian, ada juga dilakukan dengan syarat puasa sekian jam tertentu. Jadi beda-beda ya. 
5. ANALISA SPERMA
Nah ini langkah paling mentok. Mau rahim kita, sel telur serta saluran tuba dinyatakan dalam keadaan sehat walafiat ataupun ada sedikit gangguan sekecil apapun, tetap saja suami juga harus diperiksakan ke Spesialist Androlog.  Lah kan yang pingin punya anak kan kita & suami. Nggak hanya 1 pihak saja toh. Jadi sama-sama, kita promil ke Dokter, suami juga sekalian cek ke Androlog.

Keuntungannya apa? Jadi bila kita ada sedikit masalah dalam fertilitas maupun hormon & suami juga ada gangguan reproduksi, maka suami-istri bisa bareng-bareng melakukan pengobatan ke Dokter. Jadi, bila nanti di kemudian hari suami & istri sama-sama sudah dinyatakan SEHAT dan siap HAMIL, kita tidak perlu menunggu pasangan kita pengobatan dulu sekian waktu, karena sudah sama-sama siap (tidak buang-buang waktu).

Untuk pemeriksaan cek sperma bisa dengan inisiatif kita mencari RS & jadwal Dokter Spesialis Androlog yang praktek di RS pilihan kita, atau lebih dulu saat istri kunjungan ke Dokter SPoG, sang istri bisa meminta pada Dokter untuk dibuatkan Surat pengantar cek Lab sperma + ke spesialis Androlog untuk suami kita.

So, ibu-ibu, tetap semangat ya dengan doa serta ikhtiarnya menanti momongan.
Saya juga sama, masih berjuang dan ekstra Maha Sabar dalam penantian ini (apalagi maha sabar menghadapi nyinyiran ibu-ibu yang berlidah pedas). 

Saya bisa terlihat strong, sabar, tapi jangan salah, kalau sudah mewek ya sudahlah bisa nangis diatas sajadah / dipelukan suami sambil meluk boneka kucing kesayangan dan bilang ke suami, "aku pengen anak Mas, aku nga minta apa-apa, cuman ingin dikasih anak sama Allah". Sambil nangis sesengrukan dibalik mukena.

Bismillah, semoga ikhtiar kita di bulan Ramadhan ini, diberikan kemudahan ya Bunda.
Peluk sayang, saling support dan saling mendoakan.
Apalagi di bulan Ramadhan ini, Insya Allah doa-doa kita diijabah oleh Allah SWT. amin ya robal'alamin.

Read more : Program Hamil Bulan ke-1 : PCOS Survivor

Program Hamil Bulan ke-3 : Pemeriksaan HSG

Thursday, November 24, 2016


Postingan sebelumnya : Program Hamil Bulan ke-2 (Indung telur sehat)


#Intermezzo : Setelah sebelumnya (minggu kemarin) di hari haid ke-2 saya dan suami kontrol kembali ke klinik Dokter Sofie, saya diperiksa kembali keadaan sel telurnya. Ulalalaa..ini ya sel telur kiri masih saja bandel (PCO's) dan yang kanan juga ikutan. Ditambah lagi berat badan saya nggak mau kompromi sama timbangan disana, tetap di angka 70 kg (padahal di rumah saya menimbang berat badan menginjak angka 67-68).

Ceritanya protes sama timbangan di klinik yang nggak mau berkurang angkanya.

Dari hasil singkat kunjungan minggu kemarin, dan dengan analisa Bu Dokter yang dimana berat badan saya susah turun, PCOS-nya masih betah nangkring, alhasil saya diberi surat rujukan oleh Dokter untuk di hari ke-10 melakukan pemeriksaan HSG. Sedangkan suami diberi pengantar ke Dokter Rudy (spesialis Androlog) untuk konsultasi. 

Maka langsung saja, sepulangnya saya dari Dokter Sofie, kami mampir ke Lab.Pramita dengan berbekal surat rujukan dari Bu Dokter, agar saya mendaftar untuk tindakan HSG. HSG ini bisa dilakukan dengan beberapa syarat yang harus dijalankan oleh wanita, diantaranya :

  1. Jadwal Pemeriksaan HSG dilakukan : antara hari ke-9 hingga ke 14. Dan saya melaksankan HSG di hari ke-10, agar 2 hari setelahnya (hari ke-12, saya kontrol kembali ke Dokter Sofie sambil membawa hasil HSG tersebut).
  2. Setelah mens, wanita yang akan melakukan HSG jangan dulu berhubungan dengan suami.
  3. Tidak ada pantangan makanan apapun / pun puasa.
  4. Disarankan untuk mencukur bulu area kewanitaan sehari sebelum pemeriksaan, agar tidak terjadi tarikan saat nanti pemasukan selang kateter / cairan.
  5. Saat membersihkan area kewanitaan selama mens dan rentang waktu akan HSG, jangan menggunakan cairan-cairan pembersih dahulu. Cukup dengan air bersih.
  6. Berdoa, dan Jangan tegang. Dijamin, tidak akan sakit dan prosedur akan berjalan dengan waktu yang cepat (tidak perlu di ulang).
Hari pemeriksaan HSG datang juga. Saya tiba di Lab. Pramita pukul 10.00 pagi. Selesia mendaftar dan membayar biaya HSG, saya diminta menunggu sebentar. Suster pun datang dan menjelaskan tentang prosedur pemeriksaan HSG yang akan saya jalani dengan cukup detail. Dan juga meminta saya menandatangani Inform Consent / Surat Persetujuan Tindakan HSG.

Selesai menandatangani, selang 15 menit kemudian saya dipersilahkan untuk masuk ke ruangan Radiologi dan mengganti baju dengan baju pemeriksaan. Kemudian saya diminta untuk berbaring diatas meja rontgen sambil menunggu suster mempersiapkan alat-alat tindakannya dengan cara steril.




Tahap pemeriksaan tindakan HSG :
  • Posisi badan litotomi (posisi untuk melahirkan)
  • Pertama-tama, cocor bebek dimasukan ke dalam liang vagina untuk dibuka dengan lebar.
  • lalu terlihat liang vagina. Dan bila memang ada keputihan di dalamnya, makasih sebelum tindakan HSG, untuk dibersihkan dahulu oleh Dokter.
  • Selanjutnya setelah bersih, dilanjutkan untuk memasukan selang / kateter yang berguna untuk mengalirkan cairan kontras di sekitar rahim dan juga kedua tuba fallopi.
  • Setelah selang berhasil masuk dengan sempurna, cairan kontras akan dimasukan sedikit demi sedikit hingga ukuran 5cc. 
  • Saat pemeriksaan foto HSG, diharapkan kita untuk tarik nafas
  • Tips ke-1 : Jangan tegang. karena ketegangan yang kita rasakan malah membuat cairan kontras yang masuk akan keluar kembali, dan harus dibersihkan dan di ulang lagi dari tahap pertama.
  • Tips ke-2 : Bagi saya sendiri yang melakukan pemeriksaan sendiri tanpa di temani suami, saya hanya mengucap dan membaca doa berkali-kali untuk membuat hati saya tenang. Surat Al-Fatihah, Ayat Kursi, An-Nas berulang-kali. Dan bila diminta Doker untuk rileks sebentar, saya coba untuk mengusap-usap area rahim dan perut saya sembari membacakan surat Ayat Kursi dan Al-Fatihah diselingi mengajak ngobrol rahim saya dalam hati, "semoga rahimku sehat ya Rabb"
  • Tips ke-3 : Rileks, hati tenang. Dan saat merasakan cairan masuk dan perut terasa sedikit sakit / mulas, ucapkan dalam hati meminta ampunan kepada sang Pencipta. Insya Allah, momen ber-kontemplasi (berbincang dengan diri sendiri), membuahkan hasil pengalaman batin bagi saya sendiri.
Setelah tindakan HSG selesai, saya diminta untuk bersih-bersih ke toilet. Selang 10 menit, diminta untuk berbaring kembali di meja rontgen untuk di rontgen terakhir untuk melihat apakah masih ada cairan kontras yang berada di dalam.

Untuk hasil HSG tersebut, dapa diambil hari itu juga. Dan segera saya mencoba untuk googling dan mencari arti / terjemahan dari bahasa fisiologis hasil Laboratorium. 
Alhamdulillah, hasil lab saya :
Kedua tuba paten (artinya kedua tuba fallopi sehat dan baik)
Uterus antefleksi (artinya posisi uterus normal / menghadap ke depan)
Jadi tinggal menunggu 2 hari lagi untuk membawa hasil HSG dan hasil Lab tes sperma suami, untuk pemeriksaan berikutnya ke Dokter Sofie. Bismillah, mudah-mudahan tindakan selanjutnya saya sudah diberikan lampu hijau untuk Dokter untuk melakukan program hamil tahap selanjutnya, amin.


Read more : Program Hamil Bulan ke-4 : Promil vs. Penelitian

Rekomendasi Dokter Kandungan di Bandung

Thursday, October 27, 2016


Selamat sore Mommies dan calon Mommies (amin).

Kali ini saya akan sedikit sharing tentang Nama-nama Dokter handal dan ternama di Bandung khusus Spesialisasi Kandungan dan juga fertilitas. Dan untuk informasi perihal nama-nama Dokter ini saya tulis berdasarkan informasi yang sudah terdapat di internet & saya tambahkan pula dari hasil saya mendapat informasi dari teman-teman seperjuangan (yang sedang Program hamil) dan juga dari pengalaman saya pribadi bertemu dan melakukan pemeriksaan dengan beberapa Dokter di kota Bandung.

Dalam pemilihan Dokter Kandungan, tidak bisa seperti kita mendadak mengunjung Dokter Umum disaat kita demam tinggi. Karena kita ketahui bersama bahwa Dokter umum tersebar cukup banyak di RS, klinik bahkan laboratorium. Sedangkan untuk Dokter kandungan sendiri, kita harus melakukan pemilihan dengan seksama. Kenapa? Karena Dokter Kandungan akan menjadi teman setia kita di kala kita menjalani moment paling berharga bagi seorang wanita yaitu 'Program Hamil / pun proses Kehamilan'. Untuk hal satu ini, keseriusan dan kejelian kita dalam memilih Dokter handal amat sangat penting demi keselamatan dan kesehatan kita serta janin kita tentunya.

Selain itu, selama 9 bulan kita mengandung, kita harus terus berhubungan dengan dokter kandungan tersebut. Oleh sebab itu dalam memilih dokter kandungan harus yang dapat membuat kita merasa nyaman, informatif dan sangat membantu kita (khususnya kita yang mengandung anak pertama).
Nah, berikut saya sharing rekomendasi beberapa dokter kandungan yang berada di Kota Bandung.

1. Dr. Sofie Rifayani, SpOG
Dr. Sofie merupakan dokter senior dan sudah berpengalaman. Beliau juga adalah Seorang Profesor lulusan FK UNPAD. Selama saya menjalankan Program Hamil bersama beliau, beliau cukup ramah, murah senyum, dan senang bila kita rajin mengikuti saran hidup sehat dari Bu Dokter. Selain itu cukup komunikatif dan cukup teliti. Fyi saja, beliau seorang muslim yang kalau dari info tetangga saya, beliau rajin mengikuti ke pengajian. Bagi saya yang di didik oleh Ayah untuk selalu berpegang segala sesuatunya pada agama, membuat hati saya makin cocok dan mantap memilih Dokter Sofie sebagai dokter untuk program hamil saya.
Ditambah lagi dengan ke-profesionalitas-an beliau, ada saja selipan wejangan agama dimana kita selain dianjurkan hidup sehat tetapi juga tetap berdoa dan meminta kepada Allah SWT.
Dokter Sofie sendiri juga Pro ASI, sering memberikan saran agar kita semangat memberikan ASI eksklusif setelah melahirkan.
Untuk tempat prakteknya & karakter beliau selama berinteraksi dengan pasien, silahkan cek di link Program Hamil ini.

2. Dr. Med. Tarmin Soetandi, SpOG. 
Tempat prakteknya di apotik Revita Jl. Cihampelas (seberang Hotel Grandia) dan termasuk Dokter Senior, sama dengan Dokter Sofie dan Dokter Maximus. Dokternya baik banget, teliti, kalem, santai tidak membuat kita panik. Harus sabar nunggunya karena pasiennya banyak banget. dr. Tarmin sangat pro normal. dr. Tarmin sangat di rekomendaasi untuk wanita yang ingin program hamil, beliau juga dikenal bisa menyembuhkan kista tanpa harus dioperasi.

3. Dr. Hanny Rono Sulistyo, SpOG
Tempat prakteknya di RSB Hermina, di RS Sentosa. Dr.Hanny terkenal sebagai dokter yang baik, ramah, santai komunikatif. Pasiennya sangat banyak sehingga kita harus mengantri lama untuk konsultasi. Beliau sering memberikan nasihat, sering mengingatkan untuk sholat (bagi yang muslim) dan suka memberikan bacaan doa untuk kesehatan bayi. Saat kontrol beliau menggunakan USG 4D. Tidak memberikan banyak pantangan, yang penting kita senang dan sehat. Pada saat proses persalinan dr. Hanny akan berdoa dan memandu kita untuk berdoa juga, ini yang membuat kita merasa tenang sehingga persalinan terasa lancar. Untuk persalinan dr. Hanny sering menggunakan metode balon untuk mempercepat bukaan.   

4. Dr. Mulya A Ritonga, SpOG (K)
Bagi yang mengikuti cerita perjuangan Promil saya di klinik Aster, pasti saya sangat sering menyebut nama Dokter Mulya. Beliau adalah Dokter (spesialist Obygn) yang memiliki pengalaman mumpuni dalam mengobati pasien dengan PCOS syndrome seperti saya. Saya mengikuti promil bersama beliau dengan program penelitian. Dimulai sejak pertengahan Januari 2016 saya menjalankan Promil dengan fokus dan tidak berganti / berpindah ke Dokter lain, karena sejak pertama konsul awal, saya sudah sangat sreg dengan pembawaan beliau yang sangat jelas dalam menerangkan, tidak terburu-buru, ucapannya selalu memberi sisi positif agar kita tidak cepat menyerah, murah senyum, dan terutama Beliau sangat pakar dalam menangani kasus PCOS. Itulah alasan kuat saya ajeg untuk Promil dengan beliau.

5. Dr. Maximus Mudjur, SpOG
Tempat prakteknya di Jl. Cilaki dan poli kandungan RS Boromeus (pagi). Dokternya ramah, suka menyapa pasiennya duluan. Tempat prakteknya yang di Jl. Cilaki bagus banget, suasananya kayak tempat spa, ada musik-musik klasik yang membuat kita jadi rileks. Beliau jarang memberikan obat yang macam-macam termasuk obat anti mual sekalipun. Dr. Maximus pro normal, IMD, dan ASIX sejak bayi lahir. Jika pasiennya banyak bertanya beliau cukup kooperatif menjawabnya.

6. Dr. Widiyastuti, SpOG
Tempat prakteknya di Kimia Farma, Merdeka dan RS Melinda. Dr. Widiyastuti orangnya ramah, saat menjelaskan sangat detail. Walaupun pasiennya banyak dan ngantrinya sangat lama, dia tidak terburu-buru. Untuk USG, dia lebih concern ke detak jantung, plasenta, dan ketuban. Hal ini yang kadang tidak dilakukan oleh dokter yang lain. Dr. widiyastuti ini pro normal dan IMD, selalu memberikan motivasi agar bisa normal tidak memaksakan untuk sesar, dia hanya menyarankan sesar untuk kasus tertentu. 

7. Dr. Hanom Husni Syam, SpOG, Mkes
Tempat prakteknya di RSIA Hermina dan RSB Melong Asih. Dokternya masih muda, ganteng, sangat ramah dengan pasiennya. Dia tidak pernah men-judge pasien dengan diagnosa yang tidak-tidak. Dalam hal pemberian obat dan vitamin semasa hamil, dia sangat teliti dan sangat memikirkan ibu dan perkembangan bayi di dalam kandungannya.

8. Dr. Tina Dewi Judistiani, SpOG
Tempat prakteknya di Hermina. Orangnya baik, ramah, sangat informatif banyak menjelaskan hal-hal yang kita tidak ketahui tanpa kita tanya terlebih dahulu, saat menjelaskannyapun cukup detail akan tetapi terkadang terlihat jutek. Selain sebagai dokter beliau juga seorang dosen jadi menjelaskan jelas dan logis. Berbeda dengan dokter yang lain, Dr. Tina memberikan hasil USG nya dua lembar. Dr. Tina pro ASI, IMD, ASIX.

9. Dr. Surjati Gartini SpOG
Tempat prakteknya di RS Hermina dan RS TNI-AD Sariningsih. Orangnya sangat ramah, keibuan, murah senyum, sabar dan baik banget tetapi tegas, disiplin, rapi dan tidak bermain-main dengan pekerjaannya. Kalau ada perawat yang ngaco, beliau tidak segan-segan untuk membentak yang bersangkutan.

10. Dr. Supriadi Gandamihardja, SpOG
Tempat prakteknya di Kimia Farma Cihampelas dan RS Santosa. Dokternya sangat baik dan kalem. Tidak terlalu banyak ngomong, jadi kita harus aktif bertanya dulu baru dia menjawab. Dr. Supriadi tidak suka menakuti pasien, dia juga tidak banyak memberikan obat hanya sesuai dengan kebutuhan pasiennya. 
  
11. Dr. Tono Djuwantono, SpOG
Tempat prakteknya di RS Limijati. Dokternya sangat enak diajak ngobrol, sangat helpful . Beliau juga spesialis obgyn fertilitas, biasa menghadapi pasien yang sulit mempunyai keturunan.

Semoga informasi yang tidak seberapa ini, bisa sedikit bermanfaat bagi kita semua yang sedang mencari info Dokter handal untuk Program hamil maupun perawatan kehamilan serta untuk mempersiapkan kelahiran kita kelak.





OPEN PO BUKU MERINDU
Bagi yang ingin memesan Buku ini silahkan email ke : lannatika@gmail.com

Jangan (pernah) tanya, 'Kapan Saya Hamil'

Wednesday, August 03, 2016

Kebanyakan bagi sebagian wanita, teman, rekan di tempat kerja, usia 1 tahun pernikahan bukanlah tahun 'precious moment' bagi pasangan suami istri. Tapi bagi kebanyakan pengantin diluaran sana (terutama bagi saya pribadi), tahun pertama pernikahan menjadi tahun yang membuat saya sedikit 'gila'. Gila bukan dalam artian kelainan jiwa, tapi 'gila' dengan pertanyaan 'kapan hamil / kapan ngasih cucu' yang terus-terusan saja mampir di telinga saya hampir setiap hari, setiap saat. 



Ada dimana hari-hari yang saya lewati sepulang saya dari kantor dengan perasaan hati penuh dengan tangisan, rasa kecewa dan marah. Tidak! Saya sama sekali tidak marah dengan Tuhan, tidak marah dengan suami saya, tapi marah dengan orang-orang yang tidak mengerti dengan perasaan orang lain. Perasaan seorang wanita yang baru saja berumah tangga dan belum dikaruniai seorang anak.

Sampai-sampai pernah secara diam-diam saya melakukan tes kesehatan reproduksi, hingga tes laboratorium bermacam-macam (termasuk paket tes tokso, rubella, CMV yang harganya akan seketika membuat gaji saya hampir 1 bulan habis ludes dalam 1 kali gesekan debit card). Dan itu semua awalnya saya lakukan diam-diam tanpa sepengetahuan suami. Saya tidak mau menambah pikiran suami saya saat itu, karena saya amat sangat mengerti situasi suami saya yang kala itu juga masih berusaha keras memberikan kehidupan dan penghidupan yang baik bagi istrinya ditambah pekerjaan dan perkuliahannya yang menyita dan mengambil waktu me time kami hingga saat ini dan setahun ke depan.

Hasil tes laboratorium sudah keluar dan langsung saya perlihatkan ke suami. Alhamdulillah hasilnya negatif. Walau dalam sejarahnya saya memang pecinta kucing, tapi hasil dari tes-tes tersebut negatif. Sepenuhnya kondisi organ reproduksi saya sehat, ditambah saya tidak pernah kesakitan atau merasakan sakit saat datang bulan, dan untuk periode haid saya pun terhitung sangat baik dan normal (periode 28-31 hari).



Tapi tetap saja, sudah sekian tahun ini saya selalu bertanya-tanya dalam hati, bila saya memang dalam keadaan sehat, tapi kenapa Tuhan tidak memberikan kami keturunan untuk menambah kebahagiaan rumah tangga kecil kami?
Buat saya, keturunan yang diberikan Tuhan pada kita itu bukanlah sebuah bentuk 'kepercayaan dari Tuhan". Kalau itu sebuah 'kepercayaan' maka kenapa anak sekolahan ingusan bisa mendapat keturunan dengan mudah (walau dengan jalan MBA? Alias cuman bikin dibalik semak-semak). Buat saya, saya percaya, keturunan diberikan oleh Tuhan bukan karena Tuhan percayakan untuk memberikannya pada kita, tapi itu adalah sebuah anugrah dan hadiah penuh berkah.

Sering kali saya merasa jealous dan sensitif dengan teman yang baru mengumumkan bahwa dirinya hamil (padahal baru 1-2 bulan setelah pernikahannya). Disamping saya turut senang, di sisi lainnya saya malah sedih kenapa orang lain mudah sekali untuk hamil? Sedangkan saya harus dengan ekstra kerja-keras, dari mulai menjalankan tips paling mudah yaitu menjaga pola makan, menghindari jenis-jenis makanan dan minuman yang pantang bagi ibu yang (ingin) hamil, mengkonsumsi vitamin yang sudah direkomendasikan oleh dokter spesialis Obgyn, rutin meminum jenis susu untuk program ibu hamil, dan semua itu sudah cukup menjebol dana belanja bulanan kami yang masih menata keuangan keluarga dengan jumlah yang tidak seberapa. 

Ditambah lagi di lingkungan sekeliling saya yang dengan mudahnya bercerita (curhat) bahwa setelah menikah ia sengaja menunda untuk punya momongan dulu (karena lebih mementingkan karir, atau entah alasan lainnya). Ehh tahu-tahunya hamil juga dengan cepat.
Ada juga kisah beberapa teman tentang kehamilannya yang terjadi karena faktor “tidak sengaja”, tapi ketika saya tanya, jawabannya malah, “Sebenarnya gue ngga pengen hamil dulu, Lan.”

WHATTTT!!! Mereka berbicara seperti itu. Padahal masih banyak para istri seperti saya yang ingin sekali memiliki momongan, dan mereka tidak mengerti dengan kondisi orang-orang seperti saya. 

Belum lagi yang paling membuat saya selalu ingin pulang cepat-cepat dari kantor. Dimana saya berkantor dari awal menikah di sebuah lokasi yang dimana tempat kantor tersebut pernah menjadi (bekas) lokasi kantor Ibu mertua saya dulu. Otomatis dong, kebayang, semua gerak-gerik saya, langkah saya, penampilan saya, bahkan cara saya berkomunikasi pun seakan selalu di CCTV-kan oleh para ibu-bapak (terutama teman-teman kerja) Ibu mertua. Bahkan hingga ditanya-tanya pertanyaan yang menyakitkan hati saya, seperti :


  • kapan saya hamil,
  • saya dibanding-bandingkan dengan putri/ menantunya yang baru sekian bulan menikah sudah hamil, 
  • di-kepo-in tentang kehidupan keluarga mertua saya, 
  • di-kepo-in pekerjaan dan latar belakang Orang tua kandung saya apa,
  • dan paling keterlaluannya lagi ditanya-tanya tentang internal rumah tangga saya sendiri dengan suami! Sumpah! Menyakitkan sekali pertanyaannya dan amat tidak sopan. Mereka-mereka itu (beliau-beliau) adalah sekumpulan ibu-ibu karir yang seangkatan usia dengan ibu mertua.  Tapi herannya beliau-beliau yang sudah lebih tua itu malah tidak paham tentang adab bertanya tentang rumah Tangga orang lain. Astagfirullah'aladzim 😣.

**huuffffff.....tidak perlu saya jabarkan semua pertanyaan yang dilontarkan oleh Ibu-ibu yang usianya sudah tua, merasa sok bijak dan sok kaya, tapi pertanyaan mereka itu sukses membuat saya selalu menangis di angkot saat di perjalanan sepulang kerja / di motor di kala suami menjemput saya sepulang kerja.


Seketika saya jadi teringat kejadian 3 bulan sebelum pernikahan saya setahun lalu, dimana di suatu malam, ibunya (calon) suami tiba-tiba meneleponku pukul 10 malam dan memberi perintah : "Lana, ngelamar kerja lagi saja dari sekarang mumpung belum nikah. Ngelamarnya ke kantor Tante yang di Bandung ya, kasian kalau Mas yang resign... kan karirnya sudah bagus di Bandung".  

Jujur, membuat keputusan resign adalah keputusan yang amat sangat sulit bagi saya saat itu. Bukan! Bukan karena saya lebih mencintai karir saya, tapi karena saya teringat bagaimana perjuangan berat saya untuk mendapatkan karir sesuai passion & hati dan merasa dihargai atas kemampuan diri saya sendiri.

Harga saya mendapatkan karir yang sedang saya jalani saat itu (dan membuat saya bahagia dari hati) berbanding lurus dengan perjuangan saya selama 7-8 tahun lamanya melewati kuliah+karir dengan rasa jungkir-balik, seperti saat menjadi suster dengan bekerja sistim shift, merasakan dimarah-marahi keluarga pasien dan Dokter, merasakan hal-hal yang tidak semua profesi merasakannya dengan gamblang dan membuat bulu saya bergidik ketakutan dengan sangat, tidak merasakan ber-lebaran serta liburan dengan keluarga, merasakan jatuh-bangunnya mencari pekerjaan dengan banyak sekali saya temui orang-orang sekelas Manajer tempat Perusahaan yang saya Lamar untuk kerja (contohnya perusahaan Bank Mandiri -- makanya sampe sekarang saya dendam kesumat, sampe-sampe nggak mau punya rekening di Bank tsb & udah berjanji sama diri sendiri nggak akan ngijinin kelak anak-keturunanku kerja di Bank itu) ahahaha...

Lanjut, dimana mereka (Manajer Bank tsb) tempat saya ikhtiar melamar kerja kala itu, menyepelekan saya alias 'memandang saya sebelah mata' hanya karena saya jebolan Sarjana Keperawatan (padahal hasil tes IQ, psikotes saya dan lain-lainnya diatas nilai standar perusahaan mereka).
Tapi mereka selalu men-judge bahwa saya tidak pantas bekerja secara profesional--hanya karena saya seorang S.Kep, jadi menurut mereka saya lebih layak berkarir sebatas 'pembantu' Dokter! (suster tok! Pantesnya di Rumah sakit saja kerjanya! Nggak bisa berkarir professional di kantoran).

Ya Allah, ya Rabb.

Rasanya sedih mengetahui, mendengar, bahkan melihat langsung orang-orang berkarir tinggi seperti mereka yang masih berpandangan sempit, memandang bahwa sarjana-sarjana lulusan Keperawatan hanyalah sekedar seorang suster, pembantu Dokter, dan ngggak bisa kerja kantoran.

Terutama ada 1 Perusahaan perbankan di Indonesia yang amat sangat membuat banyak anak muda seperti saya (kami) sakit hati. Hanya karena saya (kami) lulusan sarjana Keperawatan, mereka pihak Bank tsb menolak mentah-mentah dan tidak memberi kami kesempatan.

Semenjak saat itu.....dalam hati saya,  saya amat muak dengan Bank tersebut.
Bank Mandiri. Amat sangat disayangkan, bank se-prestisius itu masih mengkotak-kotakan, merendahkan kemampuan seseorang hanya karena ia lulusan di bidang kesehatan, Agama, filsafat. Astagfirullah'aladzim. 
Kalau memang Bapak-Ibu terhormat tidak mau ada karyawan Perusahaan Bapak-ibu yang background pendidikannya tersebut menjadi bagian Keluarga Bank Mandiri, nggak usahlah Pak, Ibu terhormat untuk merendahkan titel sarjana kami dan dicetak besar-besar, diucap dengan lantang oleh bibir-bibir anda saat berhadapan dengan kami-kami para sarjana kesehatan, filsafat, dan sebagainya.
Rasanya cukup sakit hati untuk selalu dipandang sebelah mata hanya karena di CV saya tertera "S.Kep--Sarjana Keperawatan" dimana lulusan seperti itu tidak pantas menjadi Wanita karir profesional dan mengejar mimpi besarnya.

Kembali ke  kisah dan pengalaman saya menghadapi orang-orang yang lebih tua di tempat kerja, ada saja suara-suara dan kata-kata yang membuat saya merasa down. Apalagi saat bertemu dengan kerabat suami, Bapak-bapak & ibu-ibu di kantor yang sebenernya sama sekali tidak saya kenal, teman yang tidak terlalu kenal-kenal banget.... Mereka dengan entengnya berkata,
  • “Kamu nga hamil-hamil, abisnya sibuk kerja terus sih ya.”
  • “Sodara aku baru 1 bulan nikah udah langsung hamil loh.” 
  • “Ngga perlu cari uang cape-cape atuh neng, kan udah ada suami yang kerja.” 
  • “Kamu pake KB ya? Ngapain sih pake KB segala.” (sumpah, saya nga pake KB!)
  • “Udah nikah berapa lama? Kok belum isi.”

Saat-saat seperti itu saya jadi sensitif sekali dan tersinggung. 

Saya hanya (bisa) diam dan tersenyum saat kalimat pertanyaan itu selalu menyapa keseharian saya. Saya akan tetap berusaha memperoleh keturunan. Dan semoga usaha, doa serta penantian saya akan datang dengan indah suatu saat nanti. And now, I just do what makes me happy! 



***




So, that's the story. I decided to write and blog about my journey, because I know there are so many out there who desperately want children and for some reason it just hasn't happened yet – YOU ARE NOT ALONE! I believe God moves in mysterious ways. Never give up, never lose hope.. Always. Thank you to all of you who still support and follow my journey and pray for us!



Protected by Copyscape

Custom Post Signature

Custom Post Signature